Cerita Rakyat
Cerita Asal Mula Dunia, Manusia, dan Padi pada Masyarakat Dayak Kanayatn
Temukan artikel lainnya di sini:
![]() |
| Gambar. Acara Menumbuk Padi |
Dayakreview.com - Naik
Dango didasari mitos asal mula padi dan asal mula manusia jadi di kalangan
orang Dayak Kalimantan Barat, yakni cerita “Ne Baruankng Kulup” Kakek Baruangkng yang Kulup karena tidak
sunat. Masyarakat Dayak Kanayatn berasal dari Bukit Talaga, Kecamatan Sengah
Temila (menurut sebagian orang karena ada anggapan dan versi lain dari itu)
mempunyai asal usul tentang terjadinya orang Dayak atau Talino (manusia di
bumi).
Berawal
dari dikisahkan bahwa di pusat alam semesta ini terdapat sebuah pusat ai’ pauh
janggi (sumber air pohon asam besar). Inilah pohon kehidupan sumber dari segala
sumber penciptaan dan kepadanya semua ciptaan kembali. Tampaknya dari kisah
penciptaan ini yang memegang peranan penting dalam kejadian alam semesta dan
penciptaan tersebut sebagai berikut:
1. Asal Mula Dunia dan Talino yang bernama
Popo’
Sebelum
dunia ini ada, yaitu sebelum ada bulan, bintang, matahari, air, tanah,
tumbuh-tumbuhan, bumi disebut dengan Uwang-uwang Gantong Tali. Dengan keadaan
yang kosong inilah Panitah sebagai penguasa dunia ini terlebih dahulu
menciptakan bumi, yang ada bukit, lembah, gunung. Setelah itu diciptakan air
yang berbentuk laut dan sungai, setelah ada air kemudian diciptakan lagi
kayu-kayu dan rumput, barulah kemudian diciptakan bulan, matahari dan bintang.
Kemudian
diciptakan lagi kayu dan rumput, barulah kemudian diciptakan lagi hewan-hewan.
Setelah ciptaan tersebut sudah mengisi dunia ini, Panitah yang bertempat
tinggal di Ure Nyabukng melihat bahwa dunia beserta isinya yang telah
diciptakan terlihat cantik.
Setelah
dunia dan isinya telah ada, oleh Panitah dirasakan masih kurang lengkap.
Kemudian diciptakannya Jubata, yaitu Jubata Pangingu dan Jubata Pangarokng,
kedua Jubata ini diberi tugas untuk mengatur Tunayatn beserta dengan isinya.
Kedua Jubata itu menyadari bahwa mereka tidak berhak untuk ditempatkan di
Tunayatn. Mereka mengusulkan kepada Panitah supaya diciptakan penghuni yang
dapat mendiami Tunayatn ini. Oleh Panitah, diperintahkanlah kedua Jubata itu
turun ke Tunayatn untuk melihat bagaimana, dari apa, dan dimana akan
melakukannya.
Setelah
menerima perintah dari Panitah, timbul keragu-raguan dari Jubata. Karena masih
ragu maka Jubata pergi ketempat Panitah untuk menanyakan kembali bagaimana,
dari apa dan dimana dibuat penghuni itu. Kemudian Panitah menyuruh supaya
Jubata itu mengambil segempal tanah liat, dengan perintah supaya perhilah ke
Timur dan ke Barat berulang-ulang sebanyak tujuh (7) kali. Niscaya akan jadilah
penghuni yang sangat sempurna dari penghuni lainnya. Setelah menerima perintah
tersebut, kedua Jubata turun ke Tunayatn untuk melaksanakan perintah dari
Panitah.
Sesampainya
Tunayatn, apa yang telah disuruh oleh Panitah dituruti oleh kedua Jubata serta
dilaksankanlah sesuai dengan perintah. Yaitu diambilnyalah tanah liat kemudian
pergi ke Timur dan ke Barat berulang kali sebanyak tujuh kali maka jadilah
suatu wujud benda yang diberi nama Talino yang diartikan Ta=Tanah, Li=Liat,
No=Nongkakng (berjalan) berjenis laki-laki. Tapi wujud tersebut belum bisa
berbicara, belum bisa bergerak dan belum bisa bernapas, meskipun telah diajar
dan dilatih beberapa kali namun masih belum menunjukkan hasilnya. Melihat
kenyataan demikian Jubata menemui Panitah, dijelaskan kepada Panitah apa yang
telah mereka lakukan. Kemudian Panitah memerintahkan lagi kepada Jubata supaya
menggenggam sesuatu yang ia berikan, kemudian sesuatu yang ada dalam genggaman
itu ditiupkan ke dalam ubun-ubun Talino yang telah berwujud.
Kedua
Jubata itu merasa heran dengan apa yang ada dalam genggamannya itu, sebelum
sampai ditempat Talino terbaring. Jubata membuka genggamannya dan tidak
terlihat ada sesuatu pun yang telah diberikan oleh Panitah. Setelah sampai di
tempat Talino terbaring ditiupkanlah apa yang ada dalam genggaman Jubata itu ke
ubun-ubun Talino, ternyata tidak terjadi perubahan apapun terhadap Talino
karena apa yang diperintahkan oleh Panitah tidak dituruti bahkan dilanggar oleh
Jubata. Karena tidak berhasil, maka kedua Jubata itu kembali menemui Panitah.
Oleh Panitah kembali diberi lagi sesuatu dengan pesan supaya apa yang telah
diberinya itu jangan dibuka dan jangan terlalu lama. Oleh Jubata
dilaksanakanlah perintah dari Panitah, sesampainya di tempat Talino berbaring
maka ditiupkanlah sesuatu yang ada dalam genggamannya itu ke Talino itupun
hidup bisa berjalan dan bisa bicara.
Talino
yang telah diciptakan itu ditempatkan si suatu tempat yang disebut dengan
Kulikng Langit. Ditempat inilah Talino yang diberi nama Popo’, dibolehkan makan
buah-buahan yang ada, kecuali yang terdapat ditengah-tengah kulikng langit itu
dilarang untuk dimakan, buah itu diberi nama Marakoma.
Sejak
diciptakan kehidupan Popo’ hanya seorang diri, tanpa ada teman kecuali Jubata
Pangingu dan Jubata Pangorokng. Tetapi kedua Jubata itu menemani Popo’ tidak
selamanya, dengan kenyataan demikian pada suatu hari Popo’ merasa kesepian
ketika ditinggal oleh Jubata. Pada suatu hari Popo’ berbicara kepada Jubata,
katanya: kalian berteman berdua, tetapi aku sendirian, karena itu aku merasa
sedih ketika kalian tinggalkan kata Popo’. Apa yang dikatakan oleh Popo’
disampaikan oleh Jubata. Pada suatu hari Popo’ berbicara kepada Jubata,
katanya: kalian berteman berdua, tetapi aku sendirian, karena itu aku merasa
sedih kalian tinggalkan kata Popo’. Apa yang dikatakan oleh Popo’ disampaikan
oleh Jubata kepada Panitah. Kemudian Panitah menyuruh agar Jubata menemui Popo’
dan menyuruh mencabut tulang rusuk sebelah kiri. Setelah Popo’ melakukannya,
ternyata rusuk yang dicabut tersebut berubah menjadi Talino berjenis kelamin
berbeda dengan Popo’ yang sudah ada. Dengan keberhasilan ini maka Popo’ yang
kedua ini diberi nama Rusuk.
2. Kehidupan
Popo’ dengan Rusuk di Kulikng Langit.
Kulikng langit dua putar tanah sino
nyandong mang sino nyoba (Kubah langit dan bulan bumi, Sino Nyandong dan Sino
Nyoba)
Memperanakkan:
Si Nyati anak Balo Bulatn, Tapancar
anak Matahari (Si Nyati puteri Bulan dan terpancar putera Matahari)
Memperanakkan:
Iro-iro, dua Angin-angin (Kacau
Balau dan Badai)
Memperanakkan:
Uang-Uang dua Gantong Tali
(Uang-uang dua Gantong Tali),
Memperanakkan:
Tukang Nange dua Malaekat (Pandai
Besi dan Sang Dewi)
Memperanakkan:
Sumarakng Ai, Sumarakng Tanah
(Segala Air, Segala Tanah),
Mempernakkan:
Tunggur Batukng dua Mara Puhutn
(Bambu dan perpohonan),
Memperanakkan:
Antuyut dua Barayut (Tumbuhan
Merambat dan Umbi-Umbian),
Memperanakkan:
Popo’
dua Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).
Setelah
Rusuk diciptakan, maka kehidupan di Kulikng Langit telah dihuni oleh dua orang
Talino yaitu Popo’ dan Rusuk, setelah Popo’ mempunyai teman maka Jubata tidak
lagi menemani kedua Talino itu. Kehidupan Popo’ dan Rusuk sangat bahagia,
karena sebelum mereka ada keadaan di tempat dimana mereka hidup semuanya telah
tersedia.
Kebahagian
Popo’ dan Rusuk tidaklah lama, pada suatu hari ketika Popo’ sedang tidur Rusuk
pergi berjalan-jalan sambil mencari buah-buahan yang bisa untuk dimakan. Ketika
berada dekat sebatang pohon yang terletak di tengah-tengah taman, Rusuk melihat
ada buah yang sudah masak, dalam waktu yang bersamaan mendengar ada suara orang
yang memanggilnya untuk memetik buah yang sudah masak itu untuk dimakan. Buah itu
sampai terkulai menyentuh hidung Rusuk, diambilnyalah buah itu dan dimakan oleh
Rusuk.
Buah
tersebut oleh Rusuk dirasakan enak, hampir 1 buah habis di makan. Sisanya
kira-kira ¼ bagian dibawanya pulang, sesampai di rumah Popo’ masih dalam
keadaan tidur. Oleh Rusuk melihat Popo’ masih dalam keadaan tidur
dibangunkannya, untuk makan sisa dari buah yang dibawa pulang oleh Rusuk. Rasa
buah itu memang enak, setelah memakannya kemudian Popo’ menanyakan kepada Rusuk
buah apa yang diambilnya itu dan rasanya enak. Oleh Rusuk dijawab bahwa buah
itu adalah buah pohon yang terletak ditengah-tengah taman, kemudian berkata
lagi Popo’ bahwa buah yang kamu ambil dan makan itu adalah buah yang dilarang
dan tidak boleh makan.
Berkata
lagi Popo’ bahwa aku yang lebih dahulu tinggal di sini tidak berani menyentuh
maupun mengambil buah itu apalagi untuk dimakan, maka jawab Rusuk ketika berada
dekat pohon itu ada suara yang menyuruh aku untuk mengambil dan memakan buah
itu. Lalu Popo’ menjelaskan lagi bahwa yang menyuruh kamu mengambil dan memakan
buah itu adalah antu Sano’ dan antu Sabukng, setelah Popo’ berkata demikian
maka hari menjadi gelap, angin ribut, karena kuatnya angin maka kayu-kayu yang
ada menjadi tumbang, Popo’ dan Rusuk terbawa oleh angin yang kuat. Popo’ terbawa
ke sebelah matahari terbit, sedangkan Rusuk terbawa ke arah matahati terbenam.
Setelah Popo’ dan Rusuk yang
berpisah karena di bawa oleh angin tadi, pada suatu hari mereka bertemu di
suatu tempat yang bernama Ai’ ina’ ba-ulu, Padang ina’ barumput, ditempat
inilah kemudian Popo’ dan Rusuk hidup dan berkeluarga.
Ditempat
inilah Popo’ dan Rusuk berkeluarga yaitu hidup bersama sebagai suami & istri
dan mempunyai keturunan 7 (tujuh) orang terdiri dari:
a.
Gundal tanah (Laki-laki)
b.
Sarangkio (Perempuan)
c.
Mantoari (Laki-laki)
d.
Sarangkinang (Perempuan)
e.
Apo’ tanah (Laki-laki)
f.
Balo anakng (Perempuan)
g.
Kulikng ari (Laki-laki)
Ketujuh anak dari Popo’ dan Rusuk ini
berkembang dan tumbuh menjadi dewasa, kemudian oleh kedua orangtuanya anak-anak
ini diberi kebebasan untuk mencari makan masing-masing.
Popo’ dan Rusuk dan anak-anaknya,
mulanya makan buah-buahan dan daun-daunan yang ada. Pada suatu hari Gundal
Tanah yaitu anaknya yang tertua pergi jauh dari adik-adiknya, untuk mencari
makanan agar dapat mendapat yang lebih banyak dari adik-adiknya. Barulah pada
sore hari Gundal tanah ini baru pulang, sesampainya di rumah dilihat
adik-adiknya sudah duduk berpasang-pasangan, begitupun tidur mereka
bersama-sama dan berpasang-pasangan, begitupun tidur mereka bersama-sama dan
berpasang-pasangan. Dalam pikiran Gundal tanah bahwa adik-adiknya itu sudah
kawin, meskipun ia tidak mendapat pasangan tapi ia tidak mengganggu
adik-adiknya yang sudah berpasang-pasangan itu karena mereka semua adalah
adik-adiknya sendiri.
Pada suatu hari, Gundal Tanah mohon
kepada Bapaknya untuk dibunuh. Permohonan Gundal Tanah diucapkan tujuh kali
dalam sehari selama 7 hari, yang berarti bahwa Gundal Tanah memohon kepada
Bapaknya tidak mengambulkan permintaannya, maka Gundal Tanah berkata kepada
Bapaknya kalau aku mati mungkin ada gunanya daripada aku hidup. Akhir-nya
permintaan itu dikabulkan oleh Bapaknya, ia pun dibunuh dan dikuburkan.
Ternyata pada kuburannya itu muncul tumbuh-tumbuhan dan tumbuh pada posisi
masing-masing yaitu:
a.
Di atas kepalanya hidup Jawa.
b.
Di kanannya hidup gambum.
c.
Di sebelah kirinya hidup batar.
d.
Di sebelah kaki kanan hidup jagong.
e.
Di sebelah kaki kiri hidup anjali’.
f.
Di ujung kaki sebelah kanan hidup padi
yang buahnya sebesar asam ambawang.
g.
Di sebelah ujung kaki kirinya hidup
amulukng (sagu)
Setelah
kematian Gundal Tanah, Bapak dan Ibu sering datang ke kuburannya. Pada suatu
hari orang tua Gundal Tana yaitu Popo’ dan Rusuk, mendengar suara dari dalam
kuburan anaknya yang mengatakan:”Ambillah buah apa saja yang ada disisiku ini
untuk makan anak adik-adikku. Setelah mendengar suara itu, Popo’ dan Rusuk
segera mengambil buah yang ada. Pertama kali diambilnya Jawa’, buah dari
tumbuhan inilah yang dimakan pada waktu pertama kalinya.
Setelah itu Amplukng juga menawarkan diri
bahwa buahnya bisa untuk dimakan kemudian daunnya bisa untuk berlindung. Begitu
juga dengan padi yang sebesar buah ambawang tadi, juga menawarkan diri untuk
dimakan. Yang pertama memakan padi yang sebesar buah ambawang itu adalah
keponakan Gundal Tanah yang bernama Tampang.
Kemudian
dari hasil perkawinan antara Popo’ (Sang istri) dan Dua Rusuk (sang suami)
selanjutnya melahirkan sepasang manusia: yang pria bernama Ne’ Galeber dan
istrinya bernama Ne’ Anteber. Sepasang insan inilah yangh dianggap sebagai
nenek moyang suku Dayak Kanayatn. Dimana mereka dilahirkan dan berasal sampai
sekarang tidak diketahui. Tradisi lisan hanya mengatakan bahwa mereka berasal
dari ‘Binua Aya’ (Benua Besar), yang datang dari sebuah daratan luas, yang tak
jelas letaknya dimana, dan kemudian mendiami Gunung Bawakng.
Begitu
kehidupan Talino keturunan dari Popo’ dan Rusuk , berkembang dengan cepat
bahkan mereka sudah mengerti bahwa yang berada disekeliling mereka ada karena
ada yang menjadikannya. Dengan demikian, setiap Talino akan melakukan sesuatu
mereka akan menetap ke langit sebagai permohonan baik untuk makan maupun yang
lainnya yang disebut oleh masyarakat mendonga’ ka’ langit. Talino yang ada
berkembang dengan cepatnya, karena banyaknya Talino ini mereka lupa terhadap
penciptanya, sehingga menyebabkan penciptanya menjadi marah dan menurunkan
suatu bencana kepada Talino yang disebut dengan Zaman Sinoari.
Video terkait
Sumber :
Andasputra, Nico. Julipin, Vincentius. Djuweng, Stepanus. 2011. Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak:
Institut Dayakologi.
