Cerita Rakyat Dayak, Si Uma Umang dan Hantu Buta
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: Apps on Windows |
Dayakreview.com - Si Uma' Umang, demikian orang memanggil dua anak yatim piatu itu. Mereka hidup bersama ibu tirinya, karena setelah ibu kandungnya meninggal ayahnya menikah lagi dan tak berapa lama kemudian sebelum memiliki anak dengan ibu tirinya tersebut ayahnya pun meninggal dunia. Ibu tirinya sangat sayang kepada kedua anak tirinya itu. Tak berapa lama ibu tiri itu pun menikah kembali. Setelah memperoleh dua anak, ibu tiri berubah tak menyukai kedua bersaudara itu. Terlebih lagi ayah tirinya pun sangat tidak menyukai kehadiran dua kakak beradik itu.
Ibu dan ayah tirinya bermaksud melenyapkan si Uma' Umang. Sebenarnya sudah banyak cara yang mereka tempuh untuk tujuan tersebut, namun karena ada sedikit rasa kasihan usaha mereka selalu batal. Sehingga pada suatu hari ketika air pasang, ayah tiri mengajak kedua bersaudara itu mandi di sungai saat air sedang deras.
| Ilustrasi cerita. Foto: PNGWing |
Melihat kedua anak tirinya sedang asyik berenang, si ayah tiri pun melepaskan bokor tembaganya, lalu berkata sambil teriak;
"Nak...nak... bokor kita hanyut, pergilah kalian berenang mengambilnya!!!"
Kemudian bergegaslah kedua anak itu berenang mengejar bokor yang hanyut. Karena masih kanak-kanak, mereka pun terbawa arus sungai. Di hilir sungai, makhluk halus Hantu Buta sedang memasang bubunya. Akhirnya bubu tersebut kotor dan kedua bersaudara tadi terperangkap di dalam bubu.
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: Kumparan |
Keesokan pagi, Hantu Buta datang untuk memeriksa hasil tangkapan di dalam bubunya dan giranglah hati Hantu Buta karena mendapati manusia yang akan menjadi santapan.
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: dafunda.com |
Tetapi pada saat pulang dan membawa hasil bubu nya kepada istri, si Hantu Buta dan istrinya sepakat untuk memelihara mereka terlebih dahulu karena masih kecil. Akhirnya kedua bersaudara itu dimasukkan ke dalam tempayan dan dipelihara dengan telaten.
Suatu hari istri Hantu Buta bertanya;
"Kek, sudah besarkah daun hati kita?"
Jawab Hantu Buta;
"Belum besar hatinya Nek, baru sebesar daun bayam"
Istrinya pun menjawab;
"Oh, masih kecil, belum bisa diharapkan masih belum cukup"
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: depositphotos |
Mendengar apa yang diucapkan kedua hantu, kedua bersaudara menjadi ketakutan lalu mencari akal agar dapat melarikan diri. Sang kakak berpikir keras sampai ia menemukan akal, lalu ia mencubit adiknya. Lalu menangislah adiknya.
Mendenger teriakan tersebut, bertanyalah Hantu Buta;
"Mengapa adikmu menangis?"
Sahutnya bermusihat:
"O iya Kek, ada bibit kelapa kita yang sudah tumbuh. Beri pada adiknya itu, suruh jangan menangis agar aku bisa tidur"
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: dafunda.com |
Keesokan harinya, bertanya lagi lah istri Hantu Buta;
"Bagaimana Kek, apakah sudah besar daun hati mereka berdua?"
Lalu sahut suaminya;
"Masih kecil Nek, masih sebesar daun akar kaimibit"
Pada malam itu juga kembali si kakak mencubit adiknya sampai menangis. Mendengar tangisan tersebut Hantu pun berkata;
"Mengapa adikmu menangis, Apakah karena, kamu cubit?
Lalu si kakak menjawab;
"Tidak, dia meminta kapak"
Hantu pun memberikan kapak kepada dua bersaudara itu. Kemudian berselang beberapa waktu datanglah istri Hantu Buta lalu bertanya kepada Hantu Buta;
"Sudah besar daun hati kita Kek?"
Jawab Hantu Buta;
"Nah, sudah besar ini Nek, sudah sebesar daun keladi birah"
Istrinya pun menjawab;
"Ya, kalau begitu, sudah boleh kita berpesta"
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: pinterest |
Lalu mereka menyiapkan segala macam perlengkapan memasak dan setelah menyiapkan kayu bakar dan dedaunan untuk keperluan pesta.
Berkatalah Hantu Buta kepada istrinya;
"Pergilah kau undang saudara-saudaramu dan aku juga akan mengundang saudara-saudaraku untuk berpesta"
Kemudian berangkatlah kedua hantu itu, sehingga tinggalkannya lah kedua bersaudara yang berada di dalam tempayan. Setelah agak lama berselang, sang kakak pun mengayunkan kapaknya di dalam tempayan hingga pecahlah tempayan itu.
Kemudian si kakak pun berkata kepada adiknya;
"Kalau kita berdua lari, kedua hantu itu pasti akan mengejar kita, lebih baik kelapa ini kita tanam"
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: ICHI.PRO |
Kemudian kedua bersaudara itu berdoa sambil bernyanyi;
"Berbatang, berbatanglah kau kelapa, kalau berbatang kami mau naik ke atas"
Tidak berselang lama setelah mendengar nyanyian itu, pohon kelapa pun tumbuh meninggi. Melihat apa yang terjadi, dua bersaudara pun berdoa sambil bernyanyi lagi dengan syair yang berbeda;
"Berdahan, berdahanlah kau kelapa, kalau berdahan kami tinggal didahan mu"
Pohon kelapa pun berpelepah dan kedua bersaudara bergegas naik ke atas pelepah pohon dan terus bernyanyi agar pohon kelapa semakin tumbuh tinggi. Tidak berselang lama datanglah Hantu Buta dan istri, betapa terkejutnya mereka setelah melihat tempayan itu sudah pecah. Di luar rumah mereka melihat Uma' Umang berada di pucuk pohon kelapa. Namun Hantu Buta dan istri tidak dapat memanjat pohon kelapa itu karena sudah ditumbuhi duri.
Untuk mengejar Uma' Umang dan adiknya, Hantu Buta pun menanam pohon keladi birah hingga tumbuh tinggi dan berdaun besar di samping pohon kelapa dengan sambil bernyanyi;
"Tinggi, tinggilah kau Birah"
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: pixabay |
Pohon keladi birah pun semakin tinggi hingga hampir menyamai tingginya pohon kelapa, namun syukurlah ada seekor tikus yang melihat kejadian tersebut dan berniat baik untuk membantu kedua bersaudara yang malang itu.
Tikus kemudian menggigit pohon keladi birah hingga tumbang dan jatuhlah Hantu Buta ke tanah sedangkan Uma' Umang dan adiknya semakin tinggi hingga mereka berdua melihat sebuah serambi rumah tak dari pohon kelapa yang mereka naiki. Kemudian mereka meliuk - liukkan pohon kelapa hingga condong ke arah serambi lalu mereka bergegas berpindah tempat.
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: brainstudy.info |
Seekor ayam yang berada di atap rumah kemudian ribut berkotek sehingga keluarlah suami istri penghuni rumah tersebut kemudian si ibu berteriak;
"Aduh, anak anak kita!!!"
Hingga bergegaslah penghuni rumah naik ke atap untuk menolong si Uma' Umang dan adiknya. Setelah menyelamatkan mereka, si ibu berkata kepada anak-anaknya ;
"Syukurlah kalian selamat, kalian tinggallah di sini bersama kami di Surga"
Akhirnya kedua bersaudara itu memilih hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya di Surga.
Sumber cerita: Dolli Matnor, Pongo' Kec. Mandor
= SELESAI =
Video terkait








