Bagian 2, Legenda Ne' Ragen dan Ne' Doakng
...Tidak lama setelah melakukan upacara tadi, di sekitarnya terdengar suara krasak-krusuk yang berasal dari beberapa ekor muis (binatang). Doakng pun bersiul sebanyak tiga kali. Binatang-binatang tersebut kemudian turun ke tanah untuk mencari suara siulan tadi. Doakng kemudian membidikan sumpitnya ke arah seokor muis yang paling dekat dengannya, ia siap menyumpitnya. Tetapi kemudian muis tiba-tiba mati. Tidak lama kemudian muncul tiga orang, yang saling berdebat, masing-masing mengakui bahwa dirinya lah yang menyumpit muis tadi. Masing-masing tidak mau kalah.
Kata seorang dari mereka;
"akulah yang menyumpitnya !"
Kemudian yang lainnya juga berkata;
"aku yang menyumpitnya sehingga kena dan mati.!!!
Orang berikutnya juga berkata;
"sumpitanku lah yang mengenainya, bukan anak sumpit kalian.!!!"
Perdebatan ini membuat Doakng menjadi bingung. Salah satu dari mereka bertiga yang ternyata adalah Bujakng Nyangko' (Kamang yang menjelma menjadi manusia) berkata;
"baiklah kita serahkan pada Doakng saja hasil buruan ini, biar dia saja yang memilikinya"
setelah berkata seperti itu Bujakng Nyangko menyerahkan muis kepada Doakng.
Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang Dayak, yang memiliki kepandaian melihat, mencium bau dan makanannya adalah darah. Hal Ini terlihat dari upacara-upacara adat, darah untuk kamang dan beras kuning untuk Jubata. Sama hal dengan manusia kamang juga ada yang memiliki sifat baik dan jahat.
Saat mereka bertiga menyerahkan muis tadi pada Doakng, mereka membuat perjanjian untuk bertemu kembali pada esok paginya di sebuah tempat yang bernama saka tumuk empat (perempatan).
"kade ada nangar tariu tujuh kali, seok tujuh kali dan nguik tujuh kali, ganceh atakng, diri ngayo ka' Timpurukng Pasuk ka' Lama Baganakng, ka' Jongong, Tanuk Tangoekng, Dapeh Marada'i"
"jika mendengar tariu (teriakan perang) tujuh kali, siluan tujuh kali dan ngiuk (tiuran suara elang) sebanyak tujuh kali, cepatlah kamu datang, kita ngayau di Timpurukng Pasuk, di Lama Bagenakng, di Jongong, Tanuk Tangoekng, Dapeh Marada'i"
Demikian pesan Bujakng Nyangko pada Doakng.
Keesokan harinya, ketika Doakng mendengar kode yang dijanjikan, ia kemudian bergegas pergi ke tempat pertemuan mereka di Saka Tunuk Ampat. Lalu berempat mereka menuju daerah tempat pengayauan. Tiga hari tiga malam lamanya, akhirnya sampailah mereka di sebuah ladang, musuhnya secara kebetulan disitu ada banyak orang yang sedang bekerja secara gotong royong (balale').
Diantara orang-orang tersebut satu diantaranya adalah Pamaliatn (Dukun) yang mampu menghidupkan mayat. Keempatnya kemudian berperang melawan orang-orang tersebut dan menang. Di antara seluruh korban, hanya satu yang kepalanya dibawa yaitu kepala si pamaliatn tadi.
Oleh ketiga kamang tadi, Doakng disuruh membawa kepala itu dan berpesan kepadanya, bahwa sebelum sampai di rumah, ia harus tariu, bersiul, dan ngiuk sebanyak tujuh kali. Jangan masuk ke rumah melalui tangga pintu dapur, jangan menyeruak di bawah jemuran, dan tidak boleh langsung masuk ke ruang tamu. Doakng harus masuk melalui tangga depan dan berhenti di pante dan menari-nari.
Pante adalah teras depan dari rumah panjang, yang biasanya berfungsi untuk berbagai aktivitas, di luar tinga'atn (ruang tamu dalam rumah panjang
Kepala harus diletakan pada pahar tembaga (tempat khusus yang terbuat dari tembaga untuk meletakkan bahan persembahan), lantai dialas bide (tikar dari anyaman rotan dan kulit kayu), diletakan diatas tempayan jampa berukir (tempayan besar), lalu dipasangi pelita.
Ketika sampai di rumah, Doakng menuruti pesan ini, tetapi lain halnya dengan Nyangko, ia lewat dari tepi pante dan menari-nari melewati bawah jemuran, seketika itu juga ia tewas. Jasadnya disemayamkan satu hari satu malam, lalu kemudian dikuburkan. Pada saat itulah Kamang mengajari Doakng (manusia) berpantak. Pantak ditujukan untuk mengganti orang yang sudah meninggal. Arwah yang sudah meninggal itu kelak akan tinggal dalam pantak (patung kayu) yang dibuat.
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: zona utara |
Kamang Nyado kemudian mengajari Doakng membuat pantak Kamang Nyangko. Riti tujuh jengkal, kayu besi (belian) diukir dengan riti, didoakan dengan seekor ayam jantan berbulu merah, dibentuk (dipahat) dengan tidak dibolak-balik (posisi tetap), dipahat mulai dari kepala. Syarat (pangkaras) untuk membuat pantak adalah ayam jantan berbulu merah satu ekor, parang, beliung, pahat, besi untuk membuat lobang (bor), paha babi satu ekor (diambil cuma paha nya, babi jantan yang sudah disepih atau bantul), lalu dipersembahkan atau disangahatn. Doakng melakukan semua perintah kamang Nyado, setelah selesai menguburkan jasad Kamang Nyangko.
Doakng kemudian tariu sebanyak satu kali untuk mencari kayu belian sebagai bahan untuk membuat pantak. Setelah dapat ia membawanya ke rumah dan dipahat di pante selama tiga hari tiga malam. Baru boleh dimasukan dalam rumah, menjelang senja.
Setelah pantak tersebut dimasukan ke dalam rumah, ia memperlakukannya seperti jasad manusia, dimandikan lalu mengurapinya dengan minyak dan kemudian memberinya makan. Setelah itu ia kemudian membunyikan tetabuhan dari agukng (gong) dan dau (bonang), lalu menari. Pantak tadi tiba-tiba seperti bernyawa, lalu menari-nari bersama Doakng samalam suntuk.
Setelah semua ini selesai Doakng kemudian mengajari orang tuanya untuk membuat pantak dan ketika ayahnya (Ne' Ragen) meninggal, ia membuat pantak seperti yang dulunya ia buat untuk Kamang Nyangko.
Pada saat Doakng menari dan pantak itu ikut juga menari, ibunya tidak kuasa menahan sedihnya ketika ditinggalkan suaminya. Dipeluknya pantak Ne' Ragen yang sedang menari tersebut lalu diciumnya.
![]() |
| Ilustrasi cerita. Foto: piqsels. |
Hal itu sesungguhnya tidak boleh dilakukan, tetapi semuanya sudah terlanjur. Pantak yang tadinya bisa menari-nari kemudian diam dan kembali seperti patung kayu biasa.
Video terkait

