Cerita Rakyat Kalimantan Barat - Legenda Ne' Jaraya dan Ne' Binaul
![]() |
| Ilustrasi Legenda Ne' Jaraya dan Ne' Binaul |
Konon pada masa kepemimpinan Ne' Jaraya', suku Samih pernah melakukan peperangan dengan suku Mongol. Ketika datang ke Samih, rombongan tentara Mongol itu meminta-minta bahan makanan. Karena tidak mendapat seorangpun laki-laki di kampung itu, tentara Mongol kemudian dengan memb**i buta memb***hi setiap anak, wanita, dan orang-orang yang sudah teramat tua. Tentara Mongol itu datangnya siang hari, karena itu para lelaki dewasa telah pergi kerja ke ladang. Mereka juga kebanyakan tinggal di Dango, di tengah-tengah ladang. Seluruh anak-anak mati dengan dit***k kayu (seperti di Sate) dan digan***g. M**at-m**at yang ditusuk kayu ini diletakkan di halaman-halaman rumah.
Keesokan harinya, beberapa peladang telah pulang terlebih dahulu ke kampung untuk mengambil bekal yang telah habis. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat pemandangan yang mengharukan, di mana-mana may*t bergelimpangan dan anak-anak dit**uk pakai kayu. Tentu saja rombongan peladang marah besar. Dibantu oleh Ne' Binaul, mereka berencana melakukan perlawanan. Suatu hari, mereka mengintai rombongan tentara Mongol yang akan melewati ladangnya. Terjadilah pepe**ngan yang sengit. Rombongan Ne' Binaul berhasil mencinc**g habis tentara tersebut.
Setelah puluhan tahun berlalu, orang Samih telah melupakan peristiwa itu. Namun tidak bagi rombongan tentara Mongol. Mereka masih dendam dengan orang Samih. Suatu hari, Ne' Binaul, diintai ketika bekerja di ladang. Oleh tentara Mongol, Ne' Binaul dibu**h terlebih dahulu memasang pulut (sejenis getah kayu, yang dipasang ditunggul kayu-kayu di ladang). Tanpa mengetahui itu Ne' Binaul singgah dan hinggap ditunggul itu. Ia terkejut, karena terkena pulut. Ia pasrah saja ketika tentara Mongol mencin***g habis tubuhnya, lalu tew*s seketika.
Berita tentang kemat**n Ne' Binaul menyurut amarah orang Samih. Dipimpin oleh Ne' Jaraya dan Ne' Binawa', mereka melakukan perlawanan hebat kepada tentara Mongol. Tentara Mongol terdesak dan melarikan diri hingga keluar Samih, tepatnya di Laut Cina Selatan. Mereka sebagian kembali ke Mongol dan sebagian menyusuri hilir sungai Samih hingga sampai di Pontianak.
Keturunan Ne' Jaraya' dan Ne' Binaul kini hidup dalam puluhan kampung yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Sebangki. Samih terkenal dengan tanah dimana lahir pejuang-pejuang kemerdekaan dari suku Dayak seperti; Mane Pak Kasih, kelahiran dan tinggal dikampung Pancur, beliau pernah memimpin 20-an anak buahnya menyerang barak militer dan menghadang tentara NICA pada tanggal 18 Oktober 1945 di Sidas. Dengan menggunakan perahu, rombongan Pak Kasih menyusuri sungai Samih menuju sungai Sidas guna melakukan penghadangan. Namun, nasib malang baginya, Pak Kasih beserta anak buahnya gugur dalam penyerangan ini. Makan Pak Kasih terletak di Makam Pahlawan Sidas Kecamatan Sengah Temila.
Sumber cerita: Mait Entok, Kubu Kerekng
Video terkait
