Sape’, Dentingan Merdu dari Borneo

Pertunjukan Sape’ Dayak. Foto: hypeabis

Sahabat Dayakreview.com kali ini kita membahas salah satu alat musik asli dari suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan yaitu, alat musik sape’. Apakah kalian sudah mengetahui alat musik tersebut?

Sape’ dalam bahasa lokal masyarakat suku Dayak memiliki arti; “memetik dengan jari”. Penyebutan sape’ lazim digunakan oleh sub suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah. Alat musik ini digunakan untuk menyatakan sebuah perasaan riang gembira, rasa sayang, kerinduan, dan rasa duka nestapa.

Sape’ terdiri atas dua jenis; pertama, Sape’ Kayan yang memiliki 4 tangga nada dengan ciri berbadan lebar, bertangkai kecil, panjang sekitar 1 meter, dan memiliki 2 senar/tali dari bahan plastik.

Orang tua memainkan Sape’. Foto: dreamstime

Kedua, Sape’ Kenyah yang memiliki badan kecil memanjang, pada bagian ujungnya berbentuk kecil dengan panjang sekitar 1,5 meter, memiliki tangga nada 11-12, dan talinya berasal dari senar gitar atau dawai yang halus 3-5 untai.

Alat musik Sape’. Foto: flickriver

Dari kedua jenis sape’ tersebut, Sape’ Kenyah adalah yang paling populer dikarenakan, irama dan bunyi lantunannya dapat membawa pendengar serasa di awang-awang. 

Walaupun memiliki bentuk dan cara memainkannya mirip dengan gitar, ternyata Sape' memiliki perbedaan yang cukup mencolok dengan gitar. Perbedaan tersebut terdapat pada posisi grip dan tidak adanya lubang untuk menggaungkan bunyi petikan senar, sehingga sumber bunyinya hanya berasal dari senar.

Sape’ biasanya dimainkan mengikuti perasaan pemain atau pemetiknya. Tradisi  dan lingkungan masyarakat Dayak yang dekat dengan alam, membuat alunan Sape’ mengikuti suasana alam di sekitarnya sehingga indah  atau  tidaknya  permainan Sape’ dipengaruhi oleh perasaan pemainnya.

Dahulu hingga saat ini, kepercayaan akan tuah sape’ masih diyakini oleh para sesepuh suku Dayak, contohnya; saat Sape' dimainkan dalam suatu upacara adat, seluruh orang akan terdiam, kemudian akan terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dibacakan bersama. Dalam suasana seperti ini, tidak jarang diantara mereka ada yang kerasukan roh halus atau roh leluhur. Kemudian, Sape' juga biasa dimainkan untuk mengiringi tari-tarian pada saat acara pesta rakyat atau acara gawai padi.

Seiring dengan perkembangan zaman, Sape’ tidak lagi hanya dimainkan seorang diri, namun sudah bisa dipadukan dengan beberapa alat musik modern seperti; orgen, gitar, dan drum. Begitu juga dawai Sape’, dahulu menggunakan tali dari serat pohon enau, tetapi sekarang sudah bisa memakai kawat kecil sebagai dawainya. Sehingga fungsi Sape’ di era sekarang tidak hanya untuk menyatakan perasaan, tetapi juga sebagai pendamping musik modern lainnya.

Bagaimana Sahabat Dayakreview.com, mengenai pembahasan alat musik Sape’ yang sudah admin sampaikan? Berikan saran dan kritik di kolom komentar ya. Terima kasih. 

 

Referensi:

INDONESIA.GO.ID

Powered by Blogger.